We make a life by what We give

We make a living by what We get…. We make a life by what We give… Let's give good things to people around us..

Senin, 13 Juli 2009

Salah Celup

Bardhono (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pemuda yang dalam waktu dekat akan menghabiskan masa lajang-nya dengan mengawini gadis sedesanya didaerah Kretek, mBantul .....
Sebagai pemuda yang masih kencur dalam hal "The Art of Sex" dan "How to Satisfy Your Wild Desire", maka ia ingin dapat ilmu dari orang-2 yang dianggap layak memberikan nasehat.

Bak Joko Tingkir, pergilah dia ke Imogiri, naik getek menyusuri kali Opakkerumah Pak-De-nya ... Lurah Imogori.

Ya tahu sendirilah, kalau Lurah mesti pengalaman dan memiliki jam terbang yang jauh lebih tinggi ....

Setelah acara basa-basi Jowo selesai, maka beginilah kira-2 advis Pak-De-nya.

"Wis to le ... mumpung waktunya masih 2 bulan lagi, ada baiknya "barang"mu kamu gedein dulu ... Carane di celup pake teh "Wayu" ... (teh wayu adalah teh yang sudah sedikitnya semalam berada dalam teko/poci dan berkasiat untuk membesarkan "apa saja" yang direndam disitu).

Nggih sendiko Pak-De ..., jawab pemuda Bardhono.

Bener .... selama 2 bulan menjelang perkawinan, pemuda Bardhono rajin nyelup teh "Wayu" ...

Setelah tiba waktunya.... pas malam pertama .....Ndeso Kretek geger ... Pengantin perempuan teriak2 sambil nangis .... padahal sudah jam 2.00 pagi ...

Pak De nya yang ikut nginep disitu, ikut kaget sambil senyum2 ...wah anjuranku pasti siiip iki ...

Critane pengantin perempuan komplain ... barange mas Bardhono terlalu kecil katanya ...sebesar sapu lidi tok ... sambil nangis sesenggukan ...

Pak De kaget luaaaar biasa ... lho kok bisa kebalikannya ...

Bertanggung jawab ... advisnya kok bisa jadi cikal bakal keributan ...

Usut punya usut ... kesalahan bukan pada advis Pak De, tapi pemuda Bardhono yang keliru nyelup pakai ... Slimming Tea nya, Mustika Ratu. :))

Tukang Kayu dan Rumahnya

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya. Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan.

Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya. Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu.

'Ini adalah rumahmu, ' katanya, 'hadiah dari kami.' Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Teman, itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung jawab. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan pada bagian-bagian terpenting dalam hidup, kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan 'rumah' yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan 'rumah' kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup.

Cerita Lucu Sang Photografer


Sepasang suami-isteri telah lama berusaha untuk mendapatkan seorang anak namun hingga saat ini belum juga dikaruniai. Akhirnya mereka memutuskan dan setuju untuk menggunakan jasa orang lain, dengan kata lain si Isteri harus menggunakan benih dari laki-laki lain untuk bisa mengandung anak.

Setelah setuju, mereka menentukan benih lelaki yang akan 'menyedekahkan' benihnya itu, "Ok sayang.. abang pergi dulu... sebentar lagi lelaki itu akan datang."

Begitu sang Suami pergi meninggalkan Istrinya, muncul seorang photografer yang spesial memotret bayi datang menawarkan jasa.

"Selamat pagi Nona saya datang untuk..," belum selesai bicara perempuan tersebut memotong pembicaraan seolah sudah mengerti maksud sang Photografer, "Oh ya..saya memang menunggu anda"

"Oh ya?," kata sang photografer keheranan.

"Kalau begitu....bagus lah.. saya sudah pengalaman, dengan hasil yang pasti memuaskan anda," kata sang Photografer seraya meyakinkan hasil potretannya.

"Itulah yang kami harapkan, silakan masuk dan duduk dulu mas," kata perempuan tadi mempersilahkan masuk sang Photografer yang setengah bingung.

"Hmmm bagaimana kita mulai saja Mas?," tanya perempuan tersebut setelah beberapa saat merapikan dandanannya.

"Serahkan pada saya Nona, saya sering mengalami hal semacam ini (lokasi), saya sering membuat di bath tub, bisa juga di atas sofa dan beberapa kali saya melakukan di katil. Namun kalau kesulitan terkadang kami lakukan di atas lantai di ruang tamu saja itu pun hasilnya bagus juga..yang penting anda bisa mengatur gaya yang bagus," kata lelaki tadi menerangkan tempat yang sesuai untuk pengambilan gambar.

"Bath tub? atas lantai? Hebat, karena suami saya kalau 'ambil' tak pernah memiliki gaya seperti anda dan suami saya selalu melakukan di tempat tidur," jelas perempuan itu.

"Nona, tak ada orang yang menyangka itu karya saya, hasilnya akan baik sekali.. tapi kalau kita nanti berganti posisi dan saya shoot dari beberapa angle.. saya jamin...anda akan suka dengan hasilnya dan akan ketagihan," terang phothografer terus bercerita tentang tehnik pengambilan gambar.

Si perempuan tercengang mendengar cerita sang Photografer yang memang terbiasa memasarkan karyanya.

"Nona, dalam kerja saya seseorang kadang merasa sakit untuk sebuah posisi tertentu, saat saya capek saya harus berada di luar dan beberapa saat saya akan masuk lagi."

"Ia mas, Seperti saya tak tau saja?" kata si Perempuan tadi genit.

Sang Photographer tadi, sambil mengeluarkan gambar-gambar bayi yang sungguh lucu dan mengemaskan dari dalam tasnya sambil terus bercerita, "Yang ini saya buat di atas bus kota di London ."

"Hah!...di atas bus?," perempuan tadi terkejut.

"Yang kembar ini, memang tak disangka-sangka, perlu anda tau, karya ini memang susah pengerjaannya, " kata photografer tadi.

" Susah ya mas?," tanya si Perempuan seolah mengiyakan.

"Ya... memang susah.. sehingga saya terpaksa membawa dia ke Hyde Park untuk membuat pekerjaan agar benar-benar baik, orang ramai mengerumuni kami ketika itu, untuk melihat dengan jelas apa yang kami lakukan..."

"Didepan public???"

"Ya...lebih kurang 3 jam baru selesai... sehingga saya tak boleh menghentikan konsentrasi saya......namun bila saya mau keluar.. saya terpaksa berhenti sejenak," cerita si Photografer.

"Ya Nona,... apakah Nona sudah siap, kalau sudah saya akan pasangkan tripod dan segera kita mulai"

"Tripod?," buat apa?, "tanya si Perempuan.

"Oh..itu untuk keselarasan hasil nantinya, alat saya terlalu besar untuk saya pegang lama-lama."

"Besar, sebesar apa?" tanya perempuan tadi penasaran.

Sambil meraih tasnya dan mengambil kamera yang dilengkapi tele, sang photografer menunjukan pada perempuan tersebut, "Sebesar ini Nona!".

Brukkk...... perempuan tadi langsung pingsan.

Tempayan Retak

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar. Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya.

Satu dari tempayan itu retak. Sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan yang retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Situkang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air kerumah majikannya.

Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.

Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidak sempurnaannya, dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada situkang air, “saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu”.

“Kenapa?” Tanya situkang air.

“Kenapa kamu merasa malu?”

“Saya hanya mampu selama dua tahun ini membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi”. Kata tempayan itu. Situkang air merasa kasihan pada si tempayan retak.

Dan dalam belas kasihannya, ia berkata: “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan”.

Benar, ketika mereka naik kebukit, si tempayan retak memperhatikan. Dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah disepanjang sisi jalan.

Dan itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada situkang air atas kegagagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga disepanjang jalan sisimu, tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya.

Aku telah menanam benih-benih bunga disepanjang jalan disisimu. Dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu.

Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita.

Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.


Pesan moral:

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghiasNya.

Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahahan Tuhan.

Ketahuilah, didalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

Multi Level Marketing (MLM)


MLM memang dilematis. Banyaknya praktek MLM yang tidak bertanggung jawab dan membawa korban memberi dampak negatif pada praktek seperti Amway, Tien-shi, Oriflame atau CNI. Bahkan kemudian Amway dan beberapa perusahaan MLM meng-klaim bahwa MLM berbeda dengan piramid, suatu istilah yang mereka tujukan pada praktek bisnis tipuan seperti arisan berantai. Yang jelas istilah MLM menjadi tidak sedap sehingga Herbalife, Prudential, atau perusahaan asuransi lainnya tidak mau menggunakan istilah itu secara terus terang, dan Amway sendiri dengan Network 21-nya juga menghindari istilah MLM dan menggunakan istilah ‘Network Marketing’ (pemasaran jaringan), padahal justru penggunaan istilah ini sebenarnya keliru.

Sebenarnya istilah MLM menunjukkan sistem yang berbeda dengan retail atau waralaba misalnya. MLM bekerja melalui distributor independen (upline) yang membangun kelompok dibawahnya yang disebut ‘downline’ dan selanjutnya ‘downline’ yang semula berfungsi sebagai konsumen kemudian menjadi distributor baru (upline) dan membentuk kelompok ‘downline’ baru dibawahnya. MLM menunjuk pemasaran yang bergerak bertingkat/berlapis (level/layer) secara linier, dan mengapa kemudian ada yang disebut Piramid yaitu karena bentuk dua dimensinya mirip piramid. Bila piramid itu teratur dan membentuk 2 orang downline dari satu upline, maka disebut binary. Tidak ada bentuk yang benar-benar mirip piramid, soalnya multiplikasi masing-masing distributor berbeda, ada yang banyak downlinenya ada yang sedikit dan ada yang cepat bertambah down level-nya ada yang lambat.

Istilah Network sebenarnya mengambarkan tidak adanya batasan jelas antara upline dan downline dan semua unit bisa berhubungan dengan unit manapun dalam jaringan (termasuk ikatan horisontal), dan itu tidak ada dalam MLM dimana downline hanya berhubungan dengan uplinenya sendiri atau downline barunya (ikatan vertikal). Gambaran dalam buku Network-21 mengecoh pembaca, sebab disitu digambarkan upline ibarat telapak tangan yang memiliki jari-jari downline dan setiap ujung jari bak telapak baru memiliki jari-jari dan seterusnya, ini tidak beda dengan gambaran piramid, namun berbeda dengan gambaran sebuah jaring ikan dimana banyak bagiannya saling terkait dengan lainnya.

Sebenarnya yang membedakan antara Amway, Tien-shi, CNI dengan Pentagono atau AKSARA bukanlah bahwa yang satu disebut MLM yang lain Piramid, namun yang membedakan adalah bahwa ‘kandungan praktek’ MLM mereka berbeda-beda. Amway memiliki Topline (yaitu Amway sendiri) dengan komoditi yang dijual secara top-down dengan sistem bonus dan potongan yang diberikan oleh topline kepada para konsumen yang kemudian menjadi distributor, sedangkan AKSARA merupakan penyetoran uang secara bottom-up, ada pembayaran tetapi tidak ada komoditi.

Dan berbeda dengan sistem marketing lain, dimana kwalitas produk bersaing dan konsumen dapat membedakan baik kwalitas maupun harga produk dengan komoditas sejenis, MLM sekalipun mempromosikan komoditinya dengan harga yang masuk akal namun tidak memberi pilihan perbandingan. Bukan kwalitas produk yang dipentingkan namun lebih menitik beratkan pada tehnik menjualnya yang lebih merupakan cuci-otak dan indoktrinasi sehingga konsumen tertarik. Konsumen tertarik bukan karena kwalitas produk namun karena iming-iming bonus dan daya tarik kekayaan yang dipromosikan distributor. Lalu bagaimana dengan klaim Amway yang menganggap dirinya tidak menipu berbeda dengan AKSARA misalnya?

Sekalipun Amway lebih teratur, secara terselubung ada juga unsur menipunya. Semua bentuk MLM akan mengorbankan lapisan terbawah atau ujung-ujung estafet bila terjadi force majeur seperti pasar jenuh, bencana alam, perang atau kecelakaan sekeluarga, juga kalau tiba-tiba topline berhenti produksi karena dibubarkan atau pailit. Jadi, slogan bahwa: “Semua anggota memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan produk/jasa” jelas menipu, karena kalau terbentuk bottomline/grassroot, maka kenikmatan yang telah diperoleh upliners sebenarnya dibayar oleh kerugian bottomline yang jumlah orangnya jauh lebih banyak dari jumlah keseluruhan upliners.

Bottomline/grassroot dalam situasi paceklik demikian karena tidak bisa menjadi distributor (bukan karena salahnya sendiri) akan menanggung dua macam kerugian: (1) mahalnya produk, yang menurut pengakuan pihak MLM sendiri disebutkan bahwa untuk membayar bonus, sampai dua-per-tiga harga produksi digunakan untuk royalti, potongan dan bonus. Maka bila dipotong keuntungan perusahaan, sebenarnya harga produk itu rielnya cuma sekitar 10 persen dari harga produk, sisanya kemahalan; dan (2) royalti & bonus tidak didapat, ini bukan karena salahnya sendiri tapi situasi memaksa. Yang jelas jumlah korban ini akan banyak sekali. Misalnya dalam deretan 1-5-25-125-625 bisa kita lihat bahwa bottomline (dhi.625) itu besarnya 4X jumlah upline 1+5+25+125 (=156). 625 orang akan gigit jari demi kenikmatan 156 orang. Makin lama MLM beroperasi makin akan berjibun jumlah korbannya.

Dilihat dari sudut korban, ruginya bottomliner AKSARA tidak beda dengan ruginya bottomliner misalnya Amway. Bila bottomliner AKSARA berkorban masing-masing 10 ribu rupiah, maka bottomliner Amway malah bisa berkorban jauh lebih dari itu berupa nilai kemahalan harga produk dikurangi biaya produksi yang riel. Kerugian bottomliner yang jumlah orangnya jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah akumulatif upliner yang sudah menikmati bonus besar!

Dari terang di atas jelas terlihat bahwa MLM bukanlah sistem marketing yang adil dan jujur tapi penuh dengan kemungkinan penyalah gunaan terutama mengorbankan bottom liner. Dalam literatur MLM soal ‘resiko bottomline/grassroot yang akan dikorbankan’ tidak pernah diceritakan, padahal itu menyangkut jumlah orang yang jauh lebih besar dari yang sudah menikmati keuntungan. Bisnis dianggap berjalan dalam waktu tak terhingga padahal kita melihat bahwa tidak ada yang kekal di bumi. Marketing dalam bentuk lain memberi peluang hidup perusahaan dan banyak pihak lain di luar perusahaan, namun MLM memangkas semua biaya untuk itu sehingga terpupuklah dana besar untuk royalti & bonus para distributor demi keuntungan sendiri.

Selain itu, karena sifatnya nir-sarana (tanpa kantor, organisasi manajemen dll.) maka MLM cenderung beroperasi bagai ‘benalu’ dimana setiap distributor kemudian memanfaatkan fasilitas dan koneksi di mana ia berada. Seorang pegawai perusahaan akan memanfaatkan fasilitas kantor dimana ia bekerja, dosen memanfaatkan fasilitas kampus, bahkan anggota jemaat gereja memanfaatkan pertemuan setelah kebaktian untuk pemasaran kepada sesama jemaat lainnya. Di Indonesia ada kelompok-kelompok mahasiswa/profesional kristen yang banyak aktivisnya penganjur MLM, mereka memanfaatkan persekutuan yang telah terjalin sebagai sarana pengembangan bisnis MLMnya.

Dapat dimaklumi mengapa banyak perusahaan melarang pegawainya ikut MLM (seperti Astra & Gramedia) bahkan ada yang mengancam dengan sanksi PHK, pasalnya, banyak pegawai yang ikut MLM kemudian menggunakan ruang kantor, waktu kantor dan pulsa telpon kantor untuk kegiatan MLMnya. Di beberapa gereja, bahkan majelis jemaat ada yang menggunakan persekutuan jemaat bukan sebagai sarana ‘koinonia’ (persekutuan) tetapi digunakan untuk pemasaran MLM (diplesetkan sebagai dagang ‘koin’). Di USA jumlah level/layer MLM yang diizinkan juga diatur pemerintah secara ketat, soalnya ini menyangkut struktur biaya produk. Network-21 dari Amway banyak menghadapi tuntutan pengadilan dan sering kalah dalam pengadilan karena representasi yang salah. Lagipula berapa banyak pajak penghasilan digelapkan dalam perusahaan tanpa organisasi dan pegawai demikian? Bonus umumnya dianggap bukan penghasilan yang bisa dikenai pajak.

Bagi umat beragama, kita perlu waspada mengingat tujuan bisnis MLM berlawanan dengan semangat ‘mengasihi sesama’ yang diajarkan Agama. MLM menawarkan daya tarik mamon, yaitu kekayaan & kemewahan materi, mobil mewah dan jalan-jalan keluar negeri, perilaku yang potensial menomor duakan iman kepada Tuhan. David Roller menulis buku berjudul ‘How to make Big Money in MLM’, dan dalam bukunya ‘Network & Multi Level Marketing’, Allen Carmichael menulis “buku ini akan memberi anda kunci yang diperlukan untuk membuka pintu menuju kaya raya.”

Lebih lagi, pelatihan semacam Network-21, menggaet seseorang ke dalam jaring pengembangan diri (percaya diri) ‘New Age’ yang berpusat diri manusia. Dalam buku ‘Sistem untuk Sukses – Network-21,’ disebutkan “Anda percaya pada diri sendiri” dan agar kita “memvisualisasikan impian kemakmuran masa depan”. Impian indah yang berbau mantra yang “sangat menentukan keberhasilan dalam bisnis ini.” Tokoh-tokoh pelatihan New Age seperti Napoleon Hill, Harold Robins, Stephen Covey dijadikan inspirasi mimpi indah demikian, padahal pelatihan pengembangan diri demikian cenderung ‘mencuci-otak’ dan ‘indoktrinasi kejiwaan’ menurut American Psychologist Association. Sayang MLM tidak memvisualisasikan mimpi buruk bottomliner yang kelak akan menggigit jari.

Network-21 mendorong peserta mempelajari antara lain buku Dale Carnegie “How to Win Friends & Influence People” sebuah buku yang banyak dikritik orang karena mengajarkan artificial ethics/behaviour. Senyum sebagai kunci sukses dalam bergaul, dan hargailah semua orang (karena semua orang merasa dirinya penting) agar ia menyenangi kita. Dapat teman (friend) lebih penting dari persahabatan (friendship) dan soal baik buruk kabur. Richard de Vos, pendiri Amway, ber-slogan: “Tolonglah orang lain agar kita dapat menolong diri sendiri”, dengan kata lain, kasih kepada sesama dilakukan dengan pamrih yaitu “agar kita bisa menolong diri sendiri.” Suatu kasih eros yang berbeda dengan kasih ‘Agape’, yaitu berkorban agar dapat menolong orang lain. Seperti yang dilakukan para pahlawan kita.

99% pelampiasan kemarahan kepada siapa?

The story has begin...

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut.
Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih?
Raka dan Melda duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Melda pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.

Melda : "Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?"
Raka : "Kamu dong?"
Melda : "Menurut kamu, aku ini siapa?"
Raka : "(Berpikir sejenak, lalu menatap Melda dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati."

Setelah menikah, Melda dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan.
Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.

Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Melda lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
"Kamu nggak cinta lagi sama aku!"

Raka sangat membenci ketidakdewasa'an Melda dan secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"
Tiba-tiba Melda menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.
Dengan berlinang air mata, Melda kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing. "

Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Melda. Melda pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Melda, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Melda tak menunggunya. Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya.
Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Melda.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : "Apa kabar?"
Melda : "Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?"
Raka : "Belum."
Melda : "Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut."
Raka : "Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah."
Melda : "Tidak akan ada yang berubah". Melda tersenyum manis, lalu berlalu...." Good bye...."


Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Melda mengalami kecelakaan, meninggal.
Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Melda, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah FATAL"

Tradisi Yang Menyulitkan


Dari Sahabat......

Tulisan saya ini terinspirasi oleh curahan hati seorang teman–sahabat–dan sudah terposisi dengan sendirinya menjadi seorang kakak buat sy, *yang ada di makasar sana (Sis Miss U)*. Kemarin tiba-tiba dia nelpon dengan sebuah pertanyaan yang pada akhirnya membawa kami (sy & dia) pada sebuah diskusi tentang “mas kawin–uang naik—atau apalah istilahnya”.

Bukan rahasia lagi, kalau tradisi pernikahan di makasar agak lebih ruwet dan sulit dibandingkan dengan daerah-daerah lain…. bukan karena adat dan rentetan pesta yang membuat pernikahan itu agak ribet, tapi kerana sebuah tradisi dan budaya yang melekat kuat di sebagian masyarakat di kampung saya tercinta itu yang pada akhirnya banyak berfikir 2x untuk meminang/melamar gadis dari sulawesi selatan (Makasar–bugis)

….Ribetnya, karena sebuah permintaan mas kawin dari pihak perempuan yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung….bisa mencapai puluhan juta, dan konon kabarnya malah sekarang sudah ada target atau nilai minimal dan maksimal…., mas kawin *atau apalah namanya* berpengaruh nyata dari tingkat pendidikan si perempuan, pekerjaaan dan tingkat sosialnya di Masyarakat. Sedikit penggambaran :

Apabila si perempuan pendidikan terakhirnya cuman SMA, nilai maskawinnya ditargetkan 15.000.000 (lima belas juta), kalau Diploma/strata 1 itu bisa mencapai 25 jutaan *ini belum kalau si perempuan mempunyai karir atau pekerjaan yang menjanjikan, misal PNS… bisa saja uang 25 juta ini tidak berlaku–kasarnya lamaran di tolak dan si anak perempuan akan menempati nilai 30-50 juta *nikah…apa jual anak gadis y???*
Belum lagi kalau si gadis ini sudah bertitel Hajja *sekarang di daerah bugis banyak gadis2 yang sudah Hajjah*, otomatis nilai Jualnya *Jual=terkesan kasar y??* akan semakin tinggi dengan memperhitungkan ongkos ONH yang pernah dikeluarkan….
Penggambaran diatas, secara pribadi saya sangat tidak setuju…dan untungnya keluarga besar saya Alhamdulillah tidak menganut tradisi ini, mungkin karena bapak-ibu saya punya anak laki2 4 orang jadi gak berani pasang target untuk anak-anak perempuannya.

Masyarakat sekitar–keluarga besar–orang tua–, adalah mereka yang menentukan besar kecilnya “mas kawin” yang ditentukan. Ego…dan ingin terlihat hebat dimasyarakat yang akhirnya banyak yang menyampingkan nilai ibadah sebuah perkawinan dan lebih menolak lamaran ketika tawaran yang di patok tidak bisa disetujui pihak laki-laki.

Perasaan anak, di nomor duakan….. meski si anak sudah pada tahap pengenalan dan sudah memiliki ikatan dan janji dengan si pelamar, tapi ketika segala syarat tidak bisa ter ACC kan mau tidak mau dan rela tidak rela hati harus rela dikorbanin……

kembali ke curhatan sahabat saya dimakasar (difasilitasi 0,5/detik telkomsel :)), ternyata saat ini problema ini tertancap manis di tengah niat baiknya untuk penyempurnaan agamanya, saat selangkah lagi niat baiknya yang ingin betul-betul menjadi pengikut Muhammad terbentur hanya sebauh tradisi “mas kawin” yang nyatanya hanya mempersulit dan mengganjal sebuah mimpi untuk membentuk sebuah keluarga sakinah mawaddah warahma. Hanya kerana nilai 15 juta yang tidak bisa dipenuhi, nyaris semuanya gagal….

Untungnya sebuah ide cukup cemerlang yang muncul saat diskusi kami kemarin:

My sist : jadi gimana an???….apa cuman kerena masalah ini rencana kami harus bubar
Sy : Jangan….coba cari jalan dulu, pendekatan ke orang tua dulu lah…..
My sist : Sudah… tapi kayaknya tidak ada jalan, kerana memang harus segitu katanya….
Sy : Kamu punya tabungan gak…..??
My Sist : Adalah….tapi untuk apa nty??
Sy : Gini…kamu bantu kekurangan uangnya….bisa????
My Sist : Saya malu, nanti orang pikir saya sudah terlalu pengen nikah…
Sy : kenapa orang lain mesti tau… cukup kalian berdua yang tau *ups dan sy tentunya*
My Sist : Tapi misal jadi, sy takutnya suatu saat dia atau sy ungkit2 masalah ini
Sy : Kalian punya niat baik kan….jangan takuti yang blum terjadi…..

Itu sedikit perbincangan kami…. *mungkin kalimat nya tidak sama persis, tapi itulah intinya*, berani untuk mengakali dengan tidak mempermalukan diri sendiri…. yach, sebuah kometmen dengan sebuah bayaran mahal…..

Sebuah tradisi yang sebenarnya sudah selayaknya di tinjau kembali *mang UU pa…*, sebagai pengikut Nabi Muhammad selayaknya tetap dengan sunnahnya : “Jangan pernah mempersulit sebuah pernikahan”…. ……

Trik terakhir sipelamar ketika di tolak

Jual murah tanah orang tua *tuk bayar mahar/mas kawin*…..dan jadilah kita tidak dapat warisan “rugi kan…..”
Bobol bank/Kredit … “dan jadilah istri kreditan, Untungnya tidak tertulis… awas hati2 barang kreditan”
Kawin lari….ini opsi yang paling memalukan “aib tanggung sendiri”
Kembali lagi…. Untung saya dititipkan di keluarga dan orang tua yang bijaksana, “berbuatlah dan bertindak sesuai kemampuan”…..

*Dengan tidak bermaksud membagi sisi negatif tradisi yang kami (bugis,mksar) miliki, tapi kerena sebuah pemikiran….apa tidak sebaiknya jangan saling menyulitkan.

Posted by: anty

Jumat, 10 Juli 2009

SMS MALAM PERTAMA


Alkisah ada 3 orang saudara, sebut saja mereka Vira, Voni, dan Veni yang dinikahkan secara masal oleh orangtuanya. Setelah itu mereka pergi berbulan madu bersamaan. Kalau Vira pergi ke Pulau Batam, Voni pergi Ke Kepulauan Seribu dan Veni si bungsu pergi ke Bali . Namanya orang Tua sayang sama anak, selama mereka berbulan madu kedua Orang Tua mereka minta dikirim kabar tentang segala yang terjadi selama mereka berbulan madu.

Tapi agar berita yang dikirim singkat dan tidak terlalu Vulgar, mereka menggunakan Kode/Sandi tentang moto-moto Iklan. Supaya praktis dan murah, berita dikirim lewat SMS.

3 hari setelah kepergian anak mereka berbulan madu, diterimalah sebuah SMS... yang rupanya dari VIRA di Pulau Batam. Isi beritanya cukup sederhana, 'STANDARD CHARTERED'. Setelah membaca berita tersebut mereka mencari Iklan Standard Chartered di koran dan terbacalah tulisan besar berbunyi, 'BESAR, KUAT dan BERSAHABAT!' .

Tersenyumlah kedua orang tua mereka membaca berita dari Vira. Hari ke 4 datang SMS kedua, yang rupanya berasal dari Voni di Kepulauan Seribu. Isi beritanya juga cukup singkat yaitu, 'NESCAFE'. Setelah membaca surat tersebut, dengan tergesa-gesa kedua orang tua mereka mencari koran dan membaca Iklan NESCAFE yang berbunyi, 'NIKMATNYA SAMPAI TETES TERAKHIR'.

Maka kedua orang tua mereka pun tersenyum bahagia sambil sedikit haha.. hihi.. Hari ke 5 ditunggu tidak ada berita/SMS yang datang. Hari ke 6 begitu pula tidak ada sebuah SMS pun. Hari ke 7 begitu pula tidak ada kabar dari anak bungsu mereka si Veni yang berbulan Madu...

Memasuki hari ke 8... akhirnya kedua orangtua mereka menerima SMS juga dari Veni yang berbulan madu di Bali dan isi beritanya cukup singkat, ' CATHAY PASIFIC'. Segera kedua orang tua mereka mencari Iklan penerbangan Cathay Pasific yang ada dikoran, dan dijumpailah iklan penerbangan dengan tulisan besar:
'7 KALI SEMINGGU, 3 KALI SEHARI, 5 JAM NON-STOP'.

8 Kado Terindah


Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat,dan tak perlu membeli ! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.

KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya.Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian , dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.

MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kepedulian.

KERENDAHAN HATI
Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

D I A M
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya " ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.

KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya ? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, "Kau bebas berbuat semaumu." Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan

KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? (eh..)Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jita Anda mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian ( dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.

KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjai bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalanitu ?. Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado"kesediaan mengalah". Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah sudah dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita.

Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi ?

Women Is So Complicated

Ini adalah kisah Budi dan Ani, tipikal pasangan orang Sunda yang lagi pacaran dimana sang pria mendapat panggilan sayang 'Aa', sementara sang wanita dipanggil 'Neng'.
Satu bulan pertama, bagi Budi dan Ani, adalah surga. Dunia terasa indah dan damai.Mendekati 9 bulan pacaran, drama pun dimulai.

1. Cemburu
Ani menatap Budi dengan tajam. Kedua tangannya melipat defensif,menunjukkan sikap penuh permusuhan. Budi sedang mengonsumsi dosis harian: menerima semprotan Ani. Satu isu kecil dapat berubah menjadi letusan gunung.
"Kenapa semalem Neng nelepon gak Aa' bales?"
"Geulis (cantik)?, soalnya Aa' semalem baru pulang jam 2."
"Ngapain aja?" Mata Ani semakin tajam , membuat Budi merasa seperti imigran gelap yang sedang diinterogasi petugas imigrasi.
"Aa'... Aa' semalem kan siaran"
" Kan sampe jam dua belas?"
"Abis itu, mengantarkan pulang Risa."
Kesalahan terbesar kebanyakan pria adalah kejujuran.
"Enak amat yah jadi Risa. Dianter kamu pulang malem-malem. Padahal kan dia bukan pacar kamu."
Matanya semakin hostile.
Budi menggaruk-garuk kepalanya.
Dia mulai mengerti maksud omongan Ani.
Sudah saatnya wanita bersikap mandiri dan mampu pulang sendiri ke rumahnya di tengah malam melewati gang-gang penuh preman, maling pemerkosa. Belum lagi resiko dicabik-cabik anjing liar dan gila.
Di tahap ini, pembantu Ani yang berprofesi ganda sebagai pengamat Sinetron Indonesia secara transparan berpura-pura tidak menguping pertengkaran.
"Daerah rumah dia kan Cikaso. Gak aman."
"Suruh dia pindah rumah dong. Biar kamu gak perlu anter-anter! " ujar Ani sambil mengabaikan beberapa faktor kecil seperti:
a. Bahwa mencari rumah baru sulit
b. Harga rumah mahal
"Neng kenapa sih mesti cemburu?"
"Cemburu? Neng nggak cemburu. Siapa yang cemburu? Apakah Neng terdengar seperti orang yang cemburu? Menurut kamu ini cemburu? Menurut kamu Neng cemburuan? Nggak!" dengan desibel yang meningkat 8 kali dari level normal dengan dahi berkerut.

2. Dominasi
Ini adalah agenda keseharian Budi.Pagi - Antar Ani ke kampusnya. Siang - Mendatangi Ani di kampusnya, makan siang bersama. Sore - Menjemput Ani dari kampus. Malam - Menelpon Ani. Budi mulai jengah dengan aktivitas yang menuntut mobilisasi tinggi ini. Dia mengusulkan agar Ani juga pro-aktif untuk pergi ke kampus Budi sesekali dan mengurangi frekuensi pertemuan.
"Neng, kalo kayak gini terus, Aa' bisa cacat permanen dan jatuh miskin."
"Katanya sayang?"
"Gak mesti tiap hari kan ketemuan?"
"Kan kangen A'."
"Kalo Neng kangen, ya Neng juga dong sekali-kali pergi ke kampus Aa'."
"Nggak. Aa' aja yang ke kampus Neng."
"Ntar Aa' kecapekan."
"Kalo sebaliknya, Neng dong yang kecapekan."
"AAAARRRGGGHHHHHHH"

3. Sensitifitas
"Neng keliatan gendut gak sih Aa'?"
"Nggak."
"Liat dong ke Neng kalo bicara."
"Oke."
"Gendut ah."
"Nggak kok sayang."
"Gendut."
"Ya mungkin sedikit perlu fitness kali ya?"
"JADI MENURUT AA', NENG GENDUT? TEGA!"
"Loh?"
"Apa liat-liat?"
"Tadi katanya disuruh liat."
"Liatin saya gendut?"
"Aa' minta obat tidur...4 butir...please. "
"Buat?"
"Bunuh diri."
"Kenapa mau bunuh diri? Malu yah punya pacar gendut?"
"ARRRGGGHHHHH! !!"

4. Drama-drama- drama
"Halo?"
"Halo? Aa' ya?"
"Iya sayang, Neng, Aa' gak bisa ke rumah malem ini gak apa-apa ya?"
"Kenapa?"
"Aa' mau pergi sama temen-temen. Bimo ulang tahun dan mau nraktir makan."
"Nggak. Aa' ke sini sekarang juga."
"Tapi Neng, semua anak-anak pada ikutan."
"Jadi Aa' lebih seneng bergaul sama temen-temen Aa' daripada sama Neng?"
"Bukan gitu, ketemu kamu kan udah tiap hari. Bimo ulang tahun kan cuman sekali setahun."
"Bilang aja lebih sayang Bimo ketimbang sama Neng."
"Nggak kok, kamuh gak nangkep nih esensinya."
"Saya cuman sapi gila yang kamu gandeng kemana-mana. .ya, kan ?"
"Sapi sih nggak ya.."
"Hu hu hu.. udah gak ada yang sayang lagi sama Neng di dunia ini.."
"Ehm...cup cup sayang...duh, bageur..."
"Neng mending mati aja sekalian... giles aja Neng sekalian sama truk ayam, A'."
"Aduh Neng, ini bukan masalah yang besar kok, cuman semalem aja."
"Kalo bukan masalah yang besar berarti Aa' bisa ke sini, kan ?"

5. Teman
"Saya gak suka sama sahabat-sahabat kamu. Yang satu bau. Yang satu logat Sumateranya nyeremin, dan yang paling Neng gak suka,... yang paling deket sama kamu itu... tukang maenin cewek!"

6. Makna ganda
Ketika berjalan-jalan di shopping mall dengan Ani, Budi mulai menyadari perkataan Doni dulu bahwa terkadang wanita bisa menjadi makhluk yang kompleks. Minggu depan adalah ulang tahun Ani.
"Ih, bagus yah sepatu ini," ujar Ani menatap sepasang sepatu.
"Kamu mau Aa' beliin ini untuk ulang tahun kamu?"
"Nggak lah... nggak usah."
"...Oke..." Budi melanjutkan jalan-jalannya, meninggalkan Ani yang masih berdiri di depan etalase sepatu.
"Kok segitu aja?"
"???"
"Paksa dong bujuk Neng supaya mau."
"Kamu tadi baru bilang bahwa kamu nggak mau."
"Iya, tapi bukan berarti saya gak mau, kan ?"
"Jadi kalo kamu bilang gak mau, itu artinya kamu mau?"
"Belum tentu juga."
"Kalo kamu bilang mau, itu artinya kamu gak mau?"
"Belum tentu juga."
Budi cuma bisa garuk-garuk